3 Hal yang Harus Kita Tahu Soal Pajak Kendaraan
 

Pentingnya Kewajiban Membayar Pajak


Seputar Pajak di Indonesia

seputar perpajakan

Pajak menjadi bagian penting yang tak bisa dipisahkan dari masyarakat kita. Sebabnya tak lain karena kebutuhan dasar Indonesia memang mengandalkan dari sektor pajak. Jika terjadi kemacetan pembayarannya bukan tidak mungkin ada post-post dalam belanja pemerintah yang terkena imbasnya. Karena itulah setiap wajib pajak harus tahu betul pentingnya membayar kewajiban sesuai ketentuan pemerintah sebab semua demi kepentingan bersama. Salah satu yang memberikan pemasukan signifikan adalah pajak kendaraan. Mungkin jenis pungutan ini lebih familiar ditelinga para pemilik kendaraan bermotor, karena memang jenis kewajiban terhadap pemerintah yang satu ini ditujukan bagi para pengguna kendaraan bermotor baik roda dua maupun roda empat.

Tapi, para pemilik kendaraan juga masih sering bingung dengan pajak yang memiliki tarif progresif ini dan masih menyebutnya dengan tax kendaraan bermotor. Padahal keduanya adalah jenis pungutan resmi pemerintah yang berbeda. Kewajiban yang dibayar setiap tahun biasanya diakhir tahun itulah yang disebut sebagai pajak kendaraan bermotor. Sementara pajak progresif adalah pembayaran yang dikenakan kepada seseorang yang memiliki kendaraan bermotor lebih dari 1 unit. Kendaraan tersebt bisa berupa mobil maupun motor. Semakin banyak kendaraan pribadi yang dimiliki seseorang, maka jumlah yang harus dibayarkan akan semakin besar. Sistemnya mirip dengan pajak penghasilan (PPh) yang sifatnya bertambah alias semakin besar sesuai dengan besarnya jumlah penghasilan.

Karena itulah buat kamu yang tak puas dengan satu kendaraan pribadi saja, sebaiknya mulai menimbang berapa besaran pembayaran yang harus dibayarkan nantinya. Jangan sampai karena terburu hawa nafsu untuk memiliki banyak kendaraan dirumah, atau sekedar mengumpulkan kendaraan baru digarasi akhirnya malah terbebani. Sementara fungsi dari kendaraan yang ada malah menghilang karena sebenarnya kita tidak benar-benar memerlukannya. Sejauh ini sudah memahami kan bedanya pajak kendaraan bermotor Selain perbedaan mendasar dari pengertiannya ada beberapa hal lain yang juga mesti kita perhatikan agar tak lagi tertukar dan mampu mempertimbangkan berapa kira-kira ketentuan ini yang akan dibebankan setiap tahunnya.

Syarat kendaraan masuk pajak kendaraan

pajak kendaraan

Seperti ketentuan lainnya, ada syarat mutlak seseorang dikenai tarif bertambah yakni jika seseorang memiliki lebih dari satu kendaraan bermotor dengan nama dan alamat yang sama. Misalnya Nona Rini memiliki 3 mobil dengan merek dan tipe sama, dan di STNK ke-empat mobil tersebut tercantum nama dan alamat Nona Rini yang sama. Nah biarpun mereka, tipe dan harga mobil ke-3nya sama tapi besaran tarif untuk setiap kendaraan tidaklah sama. Ketika Nona Rini menjual mobilnya misalnya kepada adiknya tanpa mengubah nama dan alamat pada STNK alias tidak melakukan balik nama, Nona Rini akan tetap dibebankan pembayaran dengan tarif bertambah.

Kasus ini sering terjadi di Indonesia terutama antara keluar dekat yang saling membeli dan menjual kendaraan bekas. Karena masih dianggap satu family maka mereka tidak berusaha untuk mengurus balik nama dan berpotensi menjadi masalah dikemudian hari, karena si pemilik lama akan merasa terbebani dengan pajaknya. So, dari siapapun kamu membeli kendaraan pribadi atau kepada siapapun kamu menjualnya upayakan untuk segera melakukan balik nama agar urusan ini menjadi tanggung jawab masing-masing pemilik. Perlu diketahui juga jenis kewajiban ini tidak berlaku bagi kendaraan dinas milik pemerintah dan juga kendaraan umum yang terdaftar dengan plat kuning.

Perhitungan pajak kendaraan bermotor

Perhitungan soal pajak ini sudah tertuang pada UU no 28 Tahun 2009 mengenai Pajak Daerah dan Retribusi Daerah, penilaian PKB (Pajak Kendaraan Bermotor) didasarkan atas pengalian dua faktor, yaitu Nilai Jual Kendaraan Bermotor (NJKB) dan bobot yang mencerminkan secara relatif tinfkat kerusakan jalan dan/atau pencemaran lingkungan akibat penggunaan kendaraan bermotor. Besarannya sendiri sudah bisa kita lihat pada setiap Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK) yang kita miliki. Hitunglah dengan mengalikan NJKB dengan presentase tarif yang ditentukan oleh masing-masing pemerintah daerah.

Biasanya NJKB ini ditentukan dari nilai rata-rata penjualan kendaraat terkait yang didapat dari Agen Pemegang Merek (APM), jadi NJKB ini besarannya akan berbeda dari harga kendaraan saat dibeli. Perlu diketahui juga bahwa setiap daerah memiliki kebijakan yang tidak sama terakit pajak ini.  Namun sudah ada batas minimum yang tertuang dalam Undang-undang No 28 tahun 2009 Pasal 6 butir ((1) yakni untuk besaran pajak kendaraan pertama untuk sertiap daerah adalah minimal sebesar 1% dan maksimal 2%. Sementara untuk pajak kendaraan bermotor dikenai paling rendah 2% dan maksimal 10%. Sedangkan untuk besaran pajak kendaraan ke-3 dan seterusnya ini ditentukan oleh masing-masing peraturan daerah.

menghitung tarif

Simak daftar pajak progresif untuk DKI Jakarta:

Urutan Kepemilikan                        Tarif Pajak

Kendaraan Pertama                       2%

Kendaraan Kedua                            2,5%

Kendaraan Ketiga                           3%

Kendaraan Keempat                       3,5%

Kendaraan Kelima                           4%

Kendaraan Keenam                        4,5%

Kendaraan Ketujuh                         5%

Kendaraan Kedelapan                    5,5%

Kendaraan Kesembilan                  6%

Kendaraan Kesepuluh                    6,5%

Kendaraan Kesebelas                     7%

Kendaraan Kedua Belas                 7,5%

Kendaraan Ketiga Belas                 8%

Kendaraan Keempat Belas           8,5%

Kendaraan Kelima Belas                9%

Kendaraan Keenam Belas                            9,5%

Kendaraan Ketujuh Belas                             10%

Rumus menghitung pajak kendaraan ini adalah tarif pajak dikalikan dengan harga kendaraan.

Jadi ketika kamu membeli sebuah motor seharga Rp 15 juta sebagai kendaraan bermotor kedua, begini perhitungannya adalah:

PKB = 2,5% X 15.000.000 = Rp 375.000

Jadi besaran ketentuan yang mesti kamu bayar setiap tahun adalah Rp 375.000

Semakin banyak kendaraan yang dibayar semakin tinggi

Sudah lihat kan besaran presentasi pajak kendaraan bertambah tadi? Semakin meningkat jumlah kendaraan yang kita miliki jumlah pajak yang harus dibayarpun semakin besar. Memang tujuan dari diberlakukannya pajak ini adalah demi menekan kepemilikan kendaraan pribadi yang tiap tahunnya selalu bertambah dan menambah macet jalanan, khususnya di Ibukota Jakarta. Kalau tidak mau dikenai pajak tinggi setiap tahun coba kendalikan nafsu kita untuk memiliki kendaraan bermotor lebih dari satu.

Ingat, saat memiliki kendaraan bermotor terlebih mobil kamu juga perlu mengerluarkan budget bulanan untuk pemeliharaan, seperti mengganti oli. Juga ada bahan bakar yang harus diisi setiap kali kendaraan digunakan. Coba hitung biaya yang mesti dikeluarkan setiap tahun jika punya lebih dari satu kendaraan. Kalau masih aman dikantong atau dompet, tak apa lanjutkan saja. Tapi jika membuat hidup menjadi pas-pasan sebaiknya jangan ambil resiko. Jika memiliki dana berlebih sebaiknya diputar untuk investasi saja.

Investasi baik jangka panjang maupun pendek, jelas memberi kita keuntungan alias ada pemasukan tambahan. Berbeda dengan kendaraan pribadi yang justru akan terus menyedot keuangan karena sejumlah biaya pemeliharaan. Toh saat dijual kembali harganya pun cenderung turun, sebab nilai jual kembali kendaraan bermotor memang cenderung turun bahkan ketika baru sekali pemakaian.